Selasa, 14 Jun 2011
Khamis, 2 Jun 2011
Lelaki yang gelisah
> >>
> >>Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden,
> >>saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah.
> >>Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya.Tangannya
> >>yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap
> >>keringat di keningnya.
> >>
> >>Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja
> >>yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung
> >>saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah
> >>lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk
> >>dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang
> >>ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang
> >>hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa
> >>beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau
> >>dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?
> >>
> >>Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran
> >>telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa
> >>semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat
> >>peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci
> >>seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul
> >>sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri.
> >>Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni
> >>yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah
> >>seminggu tidak masuk.
> >>
> >>Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya
> >>itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang
> >>terbuka. Siapa saja bisa masuk.
> >>
> >>Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah
> >>dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki?
> >>Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di
> >>samping tiang telepon.
> >>Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu
> >>seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa
> >>saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu.
> >>Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi.
> >>Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk,
> >>tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa
> >>curiga lebih baik daripada lengah?
> >>
> >>Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di
> >>antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih
> >>was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke
> >>rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan
> >>di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
> >>
> >>Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga.
> >>Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk
> >>se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak
> >>itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum
> >>apa-apa ada yang memukul.
> >>
> >>Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke
> >>halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang
> >>kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad
> >>saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki
> >>saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda
> >>itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan
> >>punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu
> >>tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan
> >>sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi.
> >>Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki
> >>saya masih lemas.
> >>* * *
> >>
> >>Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di
> >>jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu
> >>yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu.
> >>Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada
> >>yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang
> >>tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan
> >>mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan
> >>bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu
> >>sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di
> >>kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah
> >>raib.
> >>
> >>Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang
> >>mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di
> >>atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu
> >>lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet
> >>bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada
> >>yang
> >>berkurang.
> >>
> >>Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti
> >>dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang
> >>siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi
> >>perekonomian yang
> >>morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah
> >>digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam
> >>dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah
> >>dongengan?
> >>
> >>Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik
> >>hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak
> >>rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak
> >>lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti
> >>ini:
> >>
> >>"Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet
> >>Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja,
> >>tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya
> >>tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya. Sudah tiga
> >>bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan
> >>tidak mampumembayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah
> >>nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos.
> >>Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir
> >>tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja.
> >>Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian
> >>sering mabuk dan judi buntut yang beredar
> >>sembunyi-sembunyi itu.
> >>
> >>Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah.
> >>Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di
> >>warung-warung. Adik-adik saya membantu
> >>mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu
> >>untuk beli beras.
> >>
> >>Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus
> >>berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi
> >>sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran,
> >>saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan
> >>kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang
> >>pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan
> >>saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang
> >>judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau
> >>angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah
> >>tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat
> >>beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil
> >>judi, saya yakin itu.
> >>
> >>Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak,
> >>kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat
> >>untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak
> >>memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh.
> >>Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit
> >>hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?
> >>
> >>Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi
> >>buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi
> >>saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk
> >>membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak
> >>yang semakin sering tidur entah di mana, tidak
> >>perduli. Hampir saya memukulnya lagi.
> >>
> >>Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa
> >>punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh
> >>siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi
> >>orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu
> >>saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan
> >>handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan
> >>bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu
> >>untuk sekali makan.
> >>
> >>Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari
> >>jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk
> >>mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi
> >>saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang.
> >>Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi
> >>pencopet.
> >>
> >>Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko,
> >>saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik.
> >>Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan,
> >>saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil
> >>dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu
> >>lebih.
> >>
> >>Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter.
> >>Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia
> >>menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya
> >>ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau
> >>meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong.
> >>Saya
> >>mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya
> >>begitu saya selesai bercerita.
> >>
> >>Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak
> >>menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan
> >>seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya.
> >>Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya
> >>saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa
> >>saya jadi
> >>pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang
> >>yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli
> >>kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya
> >>harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf."
> >>
> >>Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca.
> >>Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung
> >>dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan
> >>anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota.
> >>Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah
> >>kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak
> >>mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.
> >>
> >>Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca
> >>dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat
> >>sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu
> >>yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya
> >>tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang
> >>Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang
> >>kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira
> >>biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa
> >>saja.
> >>
> >>Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan
> >>sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati
> >>saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada
> >>lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang
> >>harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk
> >>terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.
> >>
> >>Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa
> >>sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan
> >>menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya
> >>ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan
> >>saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia,
> >>lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang
> >>Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan
> >>kepada para pengemis, para pedagang asongan dan
> >>pengamen yang banyak di setiap stopan.
> >>
> >>Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak
> >>Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama.
> >>Diam-diam air mata mengalir di mata saya.
> >>
> >>Yuni menghampiri saya dan bilang, "Mama, saya bangga
> >>jadi anak Mama." Dan saya ingin menjadi Mama bagi
> >>ribuan anak-anak lainnya.
> >>
> >>Al Baqarah 273 :
> >>"Berinfaqlah kepada orang-orang fakir yang terikat
> >>oleh jihad di jalan Allah;mereka tidak dapat berusaha
> >>di bumi. Orang-orang yang tidak tahu menyangka mereka
> >>orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta.
> >>kamu ketahui hal mereka dengan melihat keadaan mereka,
> >>mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan
> >>apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan di jalan
> >>Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui"
> >>Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden,
> >>saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah.
> >>Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya.Tangannya
> >>yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap
> >>keringat di keningnya.
> >>
> >>Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja
> >>yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung
> >>saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah
> >>lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk
> >>dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang
> >>ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang
> >>hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa
> >>beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau
> >>dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?
> >>
> >>Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran
> >>telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa
> >>semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat
> >>peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci
> >>seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul
> >>sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri.
> >>Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni
> >>yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah
> >>seminggu tidak masuk.
> >>
> >>Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya
> >>itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang
> >>terbuka. Siapa saja bisa masuk.
> >>
> >>Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah
> >>dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki?
> >>Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di
> >>samping tiang telepon.
> >>Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu
> >>seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa
> >>saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu.
> >>Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi.
> >>Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk,
> >>tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa
> >>curiga lebih baik daripada lengah?
> >>
> >>Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di
> >>antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih
> >>was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke
> >>rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan
> >>di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
> >>
> >>Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga.
> >>Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk
> >>se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak
> >>itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum
> >>apa-apa ada yang memukul.
> >>
> >>Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke
> >>halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang
> >>kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad
> >>saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki
> >>saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda
> >>itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan
> >>punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu
> >>tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan
> >>sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi.
> >>Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki
> >>saya masih lemas.
> >>* * *
> >>
> >>Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di
> >>jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu
> >>yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu.
> >>Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada
> >>yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang
> >>tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan
> >>mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan
> >>bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu
> >>sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di
> >>kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah
> >>raib.
> >>
> >>Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang
> >>mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di
> >>atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu
> >>lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet
> >>bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada
> >>yang
> >>berkurang.
> >>
> >>Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti
> >>dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang
> >>siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi
> >>perekonomian yang
> >>morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah
> >>digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam
> >>dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah
> >>dongengan?
> >>
> >>Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik
> >>hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak
> >>rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak
> >>lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti
> >>ini:
> >>
> >>"Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet
> >>Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja,
> >>tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya
> >>tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya. Sudah tiga
> >>bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan
> >>tidak mampumembayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah
> >>nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos.
> >>Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir
> >>tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja.
> >>Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian
> >>sering mabuk dan judi buntut yang beredar
> >>sembunyi-sembunyi itu.
> >>
> >>Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah.
> >>Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di
> >>warung-warung. Adik-adik saya membantu
> >>mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu
> >>untuk beli beras.
> >>
> >>Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus
> >>berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi
> >>sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran,
> >>saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan
> >>kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang
> >>pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan
> >>saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang
> >>judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau
> >>angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah
> >>tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat
> >>beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil
> >>judi, saya yakin itu.
> >>
> >>Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak,
> >>kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat
> >>untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak
> >>memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh.
> >>Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit
> >>hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?
> >>
> >>Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi
> >>buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi
> >>saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk
> >>membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak
> >>yang semakin sering tidur entah di mana, tidak
> >>perduli. Hampir saya memukulnya lagi.
> >>
> >>Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa
> >>punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh
> >>siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi
> >>orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu
> >>saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan
> >>handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan
> >>bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu
> >>untuk sekali makan.
> >>
> >>Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari
> >>jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk
> >>mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi
> >>saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang.
> >>Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi
> >>pencopet.
> >>
> >>Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko,
> >>saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik.
> >>Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan,
> >>saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil
> >>dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu
> >>lebih.
> >>
> >>Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter.
> >>Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia
> >>menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya
> >>ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau
> >>meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong.
> >>Saya
> >>mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya
> >>begitu saya selesai bercerita.
> >>
> >>Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak
> >>menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan
> >>seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya.
> >>Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya
> >>saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa
> >>saya jadi
> >>pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang
> >>yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli
> >>kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya
> >>harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf."
> >>
> >>Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca.
> >>Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung
> >>dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan
> >>anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota.
> >>Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah
> >>kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak
> >>mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.
> >>
> >>Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca
> >>dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat
> >>sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu
> >>yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya
> >>tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang
> >>Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang
> >>kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira
> >>biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa
> >>saja.
> >>
> >>Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan
> >>sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati
> >>saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada
> >>lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang
> >>harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk
> >>terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.
> >>
> >>Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa
> >>sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan
> >>menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya
> >>ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan
> >>saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia,
> >>lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang
> >>Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan
> >>kepada para pengemis, para pedagang asongan dan
> >>pengamen yang banyak di setiap stopan.
> >>
> >>Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak
> >>Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama.
> >>Diam-diam air mata mengalir di mata saya.
> >>
> >>Yuni menghampiri saya dan bilang, "Mama, saya bangga
> >>jadi anak Mama." Dan saya ingin menjadi Mama bagi
> >>ribuan anak-anak lainnya.
> >>
> >>Al Baqarah 273 :
> >>"Berinfaqlah kepada orang-orang fakir yang terikat
> >>oleh jihad di jalan Allah;mereka tidak dapat berusaha
> >>di bumi. Orang-orang yang tidak tahu menyangka mereka
> >>orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta.
> >>kamu ketahui hal mereka dengan melihat keadaan mereka,
> >>mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan
> >>apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan di jalan
> >>Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui"
Pesanan Untuk Lelaki
“Jangan engkau kahwini wanita yang enam, jangan yang ananah, yang mananah, dan yang hananah, dan jangan engkau kahwini yang hadaqah, yang baraqah dan yang syadaqah.”
Wanita Ananah: banyak mengeluh dan mengadu dan tiap saat memperalatkan sakit atau buat-buat sakit.
Wanita Mananah: suka membangkit-bangkit terhadap suami. Wanita ini sering menyatakan, “Aku membuat itu keranamu”.
Wanita Hananah: menyatakan kasih sayangnya kepada suaminya yang lain, yang dikahwininya sebelum ini atau kepada anaknya dari suami yang lain.
Wanita Hadaqah: melemparkan pandangan dan matanya pada tiap sesuatu, lalu menyatakan keinginannya untuk memiliki barang itu dan memaksa suaminya untuk membelinya.
Wanita Baraqah: ada 2 makna, pertama yang sepanjang hari mengilatkan dan menghias mukanya, kedua dia marah ketika makan dan tidak mahu makan kecuali sendirian dan diasingkannya bahagianya.
Wanita Syadaqah: banyak cakap tidak menentu lagi bising.
Dicatat oleh Imam Al-Ghazalli
LELAKI DAN AIRMATA

Aku seorang lelakibukan berarti tak punya airmata,
dan airmata bahkan tempat ku mengadu,
airmata memang tak bisa bicara,
tapi ia cukup mengerti
apa yang kurasakan,
bila ia hadir dipelupukku,
maka ia kan mendengarkan
apa yang kuadukan padanya.
biar orang bekata
aku seorang cengeng,
aku takan peduli,
karena itu cara terbaikku
‘tuk mengurangi beban hatiku...
Cinta Lelaki Mulia
eramuslim - Di Thaif, lelaki mulia itu terluka. Zaid bin Haritsah yang mendampinginya pun ikut berdarah ketika berusaha memberikan perlindungan. Penduduk negeri itu melemparinya dengan batu. Padahal, ajakannya adalah ajakan tauhid. Seruannya adalah seruan untuk mengesakan Allah. "Agar Allah diesakan dan tidak disekutukan dengan apapun." Namun, Bani Tsaqif malah memusuhinya. Pejabat negeri itu menghasut khalayak ramai untuk menyambutnya dengan cercaan dan timpukan batu.
Meski diperlakukan sedemikian kasar, Rasulullah tetap pemaaf. Kecintaannya kepada umat mengobati derita yang dialaminya. Beliau menolak tawaran Jibril yang siap mengazab penduduk Thaif dengan himpitan gunung. Sebaliknya, ia mendoakan kebaikan bagi kaum yang mencemoohnya itu, “Ya Allah, berilah kaumku hidayah, sebab mereka belum tahu.”
***
Di Bukit Uhud, pribadi pilihan itu kembali terluka. Wajah Rasulullah SAW terluka, gigi seri beliau patah, serta topi pelindung beliau hancur. Fatimah Az-Zahra, putri beliau, bersusah payah untuk menghentikan pendarahan tersebut. Dua pelindungnya terakhir, Ali ra dan Thalhah ra juga terluka parah.
Bukit Uhud menjadi saksi kekalahan pahit itu. Pasukan pemanah yang diperintahkan menjaga bukit, dijangkiti gila dunia. Silaunya harta rampasan menggerogoti keikhlasan mereka. Akibatnya, pasukan kaum muslimin porak-poranda dan Rasul pun terluka. Meski kembali disakiti, cinta lelaki mulia itu tetap bergema, “Ya Tuhanku! Berilah ampunan kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”
***
Thaif dan Uhud merupakan hari-hari terberat sang Nabi. Pengorbanannya bagi umat tiada berbanding. Iltizam terhadap dakwah mewarnai hari-hari Rasul akhir zaman itu. Kecemasannya pada nasib umat selalu mengemuka. Ia adalah Rasul yang penuh cinta kepada umatnya. Cinta itu berbalas, generasi sahabat (generasi pertama) adalah generasi yang juga sangat mencintainya. Cinta yang diperlihatkan Zaid bin Haritsah di Thaif ketika menjadi tameng bagi rasulnya. Cinta yang dibuktikan Abu Dujanah, Hamzah dan Mush'ab bin Umair di bukit Uhud. Tapi, adakah generasi terkini masih mencintainya? Apakah umatnya sekarang tetap menyimak sunnah yang diwariskannya?
Sejarah berbicara, semakin panjang umur generasi umatnya, semakin menjauh pula generasi itu dari risalahnya. Umatnya saat ini, cenderung mencemooh segelintir mukmin yang masih menghidupkan sunnah. Buku-buku sunnah mulai terpinggirkan. Kitab Bukhari-Muslim harus bersaing dengan textbook dan diktat yang lebih menjanjikan keahlian dan masa depan. Serial sirah nabawiyah hampir menghilang dari tumpukan handbook dan ensiklopedia yang biasanya menjadi asksesoris di ruang tamu keluarga muslim.
Aspek sunnah dalam ber-penampilan dan berpakaian, ramai dikritisi dengan alasan tidak praktis. Contoh dari Rasul dalam keseharian, pun semakin dihindari. Sunnah dianggap simbol yang sifatnya tentatif, bukan sebagai panduan kehidupan (minhaaj al-hayaah).
Apatah lagi aspek syar'i. Begitu banyak argumen yang dihembuskan sebagai 'pembenaran' untuk berkelit dan menghindari aspek syar'i dari sunnah. Wabah 'ingkar sunnah' ini mulai terjangkit dalam komunitas yang mengaku sebagai pengikutnya.
Keutamaan ber-shalawat kepada nabi pun nyaris terlupakan. Padahal Rasul berjanji untuk menghadiahkan syafaat bagi umatnya. “Setiap nabi memiliki doa yang selalu diucapkan. Aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat” (HR Muslim).
Jurang antara umat dengan warisan risalah Nabinya ini tentu merugikan. Kecemerlangan pribadi Rasul nyaris tak dikenali umatnya. Padahal, dalam pribadinya ada teladan yang sempurna. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab (33): 21).
Merujuk kepada sunnah yang diwariskan Rasulullah adalah ungkapan kecintaan kepadanya. Cinta pada Rasul yang lahir dari keimanan kepada Allah. “Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali Imran (3): 31).
Mencintai manusia mulia itu, berarti meneladani sirah nabawiyah sebagai panduan dalam mengarungi kehidupan. Kecintaan yang akan meluruskan langkah kita untuk ittibaa' (mengikuti) dan mewarisi komitmen untuk menyampaikan risalah kepada masyarakat.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Seorang hamba tidak beriman sebelum aku lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang.” (HR Muslim)
Omurazza-Delft, Rabiul Awwal, 1425 H
KEHARAMAN KAUM LELAKI MEMANDANG WANITA YANG BUKAN MUHRIMNYA
Dalam fasal ini dijelaskan tentang diharamkannya kaum lelaki memandang kaum wanita yang bukan muhrimnya. Begitu pula sebaliknya, yakni keharaman kaum wanita memperhatikan kaum lelakiyang bukan muhrimnya.
Tersebut dalam firman Allah dalam surat Al ahzab, : “WA IDZAA SA-ALTUMUU HUNNA MATAA’AN FAS ALUU HUNNA MIWWARAA I HIJAABIN DZAALIKUM ATH HARU LIQULUUBIKUM WAQULUU BIHINNA”
“Apa bila kamu meminta sesuatu kepada mereka maka mintalah dari belakangtabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan bagi hati mereka”.
Dalam surat An Nuur ayat 30 di jelaskan: “QUL LILMU-MINIINA YAGHUDHDHUU MIN ABSHAARIHIM WAYAHFADZUU FURUUJAHUM DZAALIKAADZKAA LAHUM INNALLAAHA KHAIRUMBIMAA YASHNA’UUNA”
“Katakanlah kepada orang laki-lakiyang beriman :”Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci begi mereka”; SesungguhnyaAllah maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.
Rasulullah S.A.W bersabda: ”Pandangan mata itu merupakan panah beracun dari panah Iblis. Barang siapa meninggalkannya karena takut Allah S.W.T, maka Allah memberinya keimanan yang mana ia akan memperoleh kemanisannya didalam hati”.
Nabi Isa as bersabda:”IYYAAKUM WANNADZARA FA INNAHAA TUZRI’U FILQOLBI SYAHWATAN WAKAFAA BIHAA FITNATAN”
“Takutlah kamu. peliharalah dirimu dari memperhatikan. Karena sesungguhnya memperhatikan itu menumbuhkan syahwat di dalam hati. Dan cukuplah syahwat itu menjadi fitnah”.
Sa’ad bin jubair mengatakan hanyalah fitnah yang menimpa Nabi Daud As adalah di sebabkan pandangan beliau. Nabi Daud bersabda kepada putera beliau Nabi Sulaiman As, lebih baik berjalanlah di belakang macan dan Harimau, janganlah berjalan di belakang perempuan.
Mujahid mengatakan, apabila seorang perempuan mengahadap ke muka maka Iblis duduk di bagian kepalanya. Lalu Iblismemperindah diri perempuan itu yang di peruntukkan bagi orang yang memperhatikannya. Kalau seorang perempuen bernalik menghadap kebelakang maka Iblis duduk di pantatnya. Lalu Iblis memperindah perempuan itu yang di peruntukkan bagi orang yang memperhatikannya.
Seorang bertanya kepada Nabi Isa As, Apa permulaan yang menyebabkan orang berzina?. Beliau bersabda :Yaitu akibat memperhatikan perempuan dan memperhatikan dirinya.
Al Fudhail mengatakan, Iblis berkata bahwa pandangan yang di lepaskan pada suatu perkara yang tidak halal itu adalah merupakan panahku yang sudah tua dan busurku yang tak pernah luput jika aku pergunakan.
Tersebut dalam sya’ir:
Segala sesuatu yang baru terjadi
Permulaannya dari pandangan
Nyala api yang besar
Permulaannya dari pelatuk yang kecil
Orang yang mempermainkan mata
Sangat di khawatirkan akibatnya
Berapa banyak pandangan
Yang masuk dan bekerja dalam hati
Bagaikan anak panah yang dilepas busur dan tali
Orang yang memperhatikan
Perkara yang membahayakan
Akan menyenangakan orang yang mempunyai kekhawatiran
Tetapi kalau akhirnya mencelakakan
Itu tidak membahayakan
Ummu salamah Ra mengatakan bahwa Ibnu Ummi maktum meminta izin kepada Rasulullah S.A.W. Saat itu aku dam maimunah Ra duduk bersama, maka Rasulullah bersabda: ”Bertakbirlah kalian “. Kami menimpali:”Bukankah dia orang buta yang tidak dapat memandang kami?”. Rasulullah bersabda:”Apa kalian tidak dapat melihatnya juga ?”.
Rasulullah S.A.W mengingatkan : ”LA’ANALLAAHUNNAADZIRA WALMANDZUURA ILAIHI” “Allah melaknat orang yang dipandang dan orang yang dipandangi (membalas pandangan).
Bagi perempuan yang beriman pada Allah, tidak dibenarkan memperlihatkan diri pada setiap orang asing, karena yang tidak terikat oleh pernikahan atau muhrim karena nasab atau sesusuan. Demikian pula orang lelaki tidak dibenarkan memperhatikan kaum wanita, sebaliknya kaum wanita balas memperhatikan pandangannya.
Sebagaimana kaum lelaki menundukkan pandangannya kepada kaum wanita, maka menjadi kewajiban pula kaum wanita menundukkan pandangan mata terhadap kaum lelaki. Pendapat itu sebagaimana di tekankan oleh Ibnu Hajar dalam kitab AZ ZAWAJIR.
Tidak pula diperbolehkan lelaki bermusafahah(bersalaman) dengan perempuan yang bukan muhrim. Larangan ini berlaku juga pada perbuatan salingmemberikan. Sebab itu perkara yang di haramkan memandangnya diharamkan pula memegangnya. Mengingat dengan cara memegangnya itu ia dapat merasakan kelezatan. Hal ini didasarkan pada dalil bahwa, kalau orang berpuasa lalu berpegangan dengan lawan jenisnya yang menyebabkan inzal(keluar mani), maka puasanya batal. Tetapi kalau keluarnya mani disebabkan oleh pandangan, puasanya tidak batal. Demikian menurut penjelasan kitab An Nihayah.
Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam kitab Al Kabir dari mu’qal bin Yasar bahwa, salah seorang di antaramu yang di lukai kepalanya oleh jarum, itu lebih baik dari pada memegang perempuan yang tidak dihalalkan untuknya.
Rasulullah S.A.W memperingatkan : ”ITTAQUU FITNATADDUN-YAA WAFITNA-TANNISAA FA-INNA AWWALA FITNATI BANII ISRA-IILA KAATAT MINQIBA-LINNISAA. ”
“Takutlah kalian terhadap fitnah dunia dan fitnah kaum wanita. Sebab permulaan fitnah yang menimpa bani isra-il itu adalah kaum wanita”.
Rasulullah S.A.W bersabda:”WAMAA TARAKTU BA’DII FITNATAN ADHARRU ‘ALARRIJAALI MINANNISAA”. (al hadits)
“Dan setelah masaku tidak ada fitnah yang lebih membahayakan terhadap kaum lelaki ketimbang fitnah akibat perempuan”.
Kecantikan Lelaki
| : | Kecantikan seorang lelaki bukan kepada rupa fizikal tetapi pada murni rohani. Lelaki yang cantik,adalah:- 1) Lelaki yang mampu mengalirkan airmata untuk ingatan 2) Lelaki yang sedia menerima segala teguran 3) Lelaki yang memberi madu,setelah menerima racun 4) Lelaki yang tenang dan lapang dada 5) Lelaki yang baik sangka 6) Lelaki yang tak pernah putus asa Kecantikan lelaki berdiri di atas kemuliaan hati. Seluruh kecantikan yang ada pada Nabi Muhammad adalah kecantikan yang sempurna seorang lelaki. Kegagahan Wanita Kegagahan seorang wanita bukan kepada pejal otot badan,tetapi pada kekuatan perasaan. Perempuan yang gagah,adalah:- 1) Perempuan yang tahan menerima sebuah kehilangan 2) Perempuan yang tidak takut pada kemiskinan 3) Perempuan yang tabah menanggung kerinduan setelah ditinggalkan 4) Perempuan yang tidak meminta-minta agar di penuhi segala keinginan. Kegagahan perempuan berdiri di atas teguh iman. Seluruh kegagahan yang ada pada Khadijah adalah kegagahan sempurna bagi seorang perempuan. Sabda Rasulullah SAW : "Sebarkanlah ajaranku walau satu ayat pun" Surah Al-Ahzab : Ayat 71 "Nescaya Allah memperbaiki bagimu amalan- amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya,maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." Wallahualam "Menyinari Aspirasi, Warnai Inspirasi" |
Langgan:
Catatan (Atom)

